in

Penjual Kerupuk Ini Tak Kecewa Hajinya Ditunda Meski Berat Perjuangannya

Mewujudkan mimpi orang tua. Itulah yang memotivasi Agus Santoso (47) rela jatuh bangun, demi menunaikan ibadah haji bersama istrinya.

Bapak dua anak ini akhirnya mampu melunasi ongkos ibadah haji dengan menyisihkan penghasilannya dari berjualan kerupuk selama 9 tahun.

Agus tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana di Dusun Bangsri, Desa Modopuro, Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto. Hampir separuh ruang tamu rumahnya sarat dengan kerupuk siap jual. Mulai dari kerupuk mawar, tahu stik, tahu kotak, kerupuk jengkol, hingga kerupuk jenis impala.

Siapa saja tak akan menyangka Agus menjadi salah seorang jemaah calon haji yang sedianya berangkat tahun ini. Tak tanggung-tanggung, ia akan menunaikan haji bersama istrinya, Alifah (40). Almarhum sang ayah Isdolah yang meninggal dunia 2007 silam, menjadi motivator baginya.


“Saya punya niat besar berangkat haji dari orang tua. Karena orang tua saya belum haji, sementara enam saudaranya sudah haji semua. Itu sering menjadi omongan keluarga besar, saya sedih. Maka saya bertekat berangkat haji mewakili keluarga orang tua saya,” kata Agus kepada wartawan di rumahnya, Sabtu (6/6/2020).

Bermodal Rp 5 juta, Agus nekat mendaftar haji melalui KBIH Armina di Mojosari, Mojokerto tahun 2010. Tak pelak niatnya sempat ditolak oleh pihak KBIH. Karena duit yang dia setorkan saat itu terlalu sedikit sebagai uang muka biaya porsi haji. Yakni mencapai Rp 50 juta untuk dua orang.

“Saya marah waktu itu. Kalau saya tak diterima, tak masalah, tapi selamanya saya tidak akan naik haji. Alhamdulillah akhirnya diterima oleh istri pemilik KBIH Armina,” ungkapnya.

Sejak saat itu, Agus semakin bekerja keras menekuni bisnis kerupuk yang dia geluti selama 19 tahun. Bisnis kerupuk tersebut cukup sederhana. Setiap hari Agus hanya membeli kerupuk mentah dari agen. Dia lantas menggoreng dan membungkus kerupuk tersebut. Kemudian menjualnya ke warung-warung.

“Tiap bulan saya titip (menyicil) Rp 700 ribu sampai Rp 1 juta. Biaya porsi lunas sekitar empat tahun. Yaitu tahun 2014,” terangnya.

Setelah melunasi biaya porsi atau setoran awal Rp 50 juta untuk dia dan istrinya, tanggungan Agus menjadi lebih ringan. Saat itu dia tinggal mengumpulkan uang untuk melunasi kekurangan biaya haji Rp 26 juta. Karena menurut dia, KBIH Armina mematok biaya haji tahun ini Rp 38 juta per orang.

Namun menginjak 2016, bisnis kerupuk Agus gulung tikar. Padahal sebelumnya dia mempunyai 15 pedagang keliling yang menjualkan kerupuknya. Saat itu dia menggoreng 1-2 kwintal kerupuk mentah setiap hari.

“Saya sempat menganggur selama 1,5 tahun karena melamar kerja ke mana-mana tidak dapat. Saya pasrah ke Allah SWT. Alhamdulillah ada teman yang membantu. Saya disuruh jualkan kerupuk dia tanpa modal. Akhirnya saya bisa bangkit, sekarang sudah punya 3 anak buah,” jelasnya.


Berkat kekuatan niatnya, Agus mampu melunasi ongkos ibadah haji untuk berdua dengan istrinya pada akhir 2019. Namun, kerja keras dan penantiannya selama 10 tahun untuk menginjakkan kaki di tanah suci, terpaksa harus dia tunda.

Karena pemerintah membatalkan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini akibat pandemi virus Corona. Pembatalan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Agama nomor 494 tahun 2020 tentang Pembatalan Pemberangkatan Jemaah Haji Pada Penyelenggaraan Ibadah Haji Tahun 2020.

Pembatalan haji tahun ini rupanya tidak membuat Agus kecewa. “Artinya Allah SWT tidak mengizinkan saya berangkat haji karena ada Corona. Alhamdulillah saya tidak kecewa karena ini urusan ibadah,” tandasnya.

Pasangan Agus dan Alifah menjadi bagian dari 1.251 calon jemaah haji asal Kabupaten Mojokerto yang batal berangkat tahun ini. Mereka akan diberangkatkan pada musim haji tahun depan setelah pandemi Corona berakhir.

Sumber: DetikNews

Rekomendasi

Detik-detik Jenazah PDP Corona di Sumsel Jatuh Saat akan Dikuburkan

Polemik Aplikasi Injil Bahasa Minang Tak Bikin Kominfo Asal Ambil Keputusan